KENDARI – Sebuah terobosan penelitian yang menggabungkan kearifan lokal dengan metodologi ilmiah modern telah berhasil dicapai oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Kendari. Penelitian yang dilaksanakan selama dua tahun ini menghasilkan penemuan formula herbal antioksidan berbasis tanaman lokal Sulawesi Tenggara yang berpotensi besar untuk pengembangan industri farmasi nasional.
Penelitian yang diberi judul “Ekstraksi dan Uji Efektivitas Antioksidan dari Kombinasi Tanaman Etnobotani Sulawesi Tenggara terhadap Radikal Bebas” ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dengan tingkat efektivitas mencapai 87 persen dalam menangkal radikal bebas. Penemuan ini telah mendapatkan sertifikasi dari Kemenkes dan sedang dalam tahap persiapan paten internasional melalui kerjasama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
Latar Belakang Penelitian yang Bermakna
Penelitian ini berawal dari kegelisahan akademis yang mendalam. Sulawesi Tenggara, sebagai daerah dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa, masih memiliki banyak potensi tanaman herbal yang belum dikaji secara ilmiah. Sementara itu, tingginya angka penyakit degeneratif dan kanker di Indonesia memerlukan solusi alternatif yang efektif, aman, dan terjangkau bagi masyarakat.
Tim penelitian yang terdiri dari 8 orang dosen dari berbagai disiplin ilmu Fakultas Kedokteran, didukung oleh 12 mahasiswa program sarjana dan magister, memulai investigasi mereka dengan melakukan survei etnobotani menyeluruh di seluruh Sulawesi Tenggara. Mereka mengunjungi berbagai komunitas adat, seniman tradisional, dan praktisi kesehatan tradisional untuk mengidentifikasi tanaman-tanaman yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.
“Kami percaya bahwa setiap pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Tugas kami adalah membuktikannya secara saintifik,” ungkap Dr. Achmad Ridhaudin, Ph.D., Ketua Tim Peneliti sekaligus dosen senior Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Unismuh Kendari pada wawancara eksklusif dengan kami di laboratorium penelitian kampus, Rabu (02/04/2026).
Metodologi dan Proses Penelitian yang Ketat
Proses penelitian ini didesain dengan standar internasional, menggunakan metode double-blind randomized controlled trial yang merupakan standar emas dalam penelitian biomedikal. Tim peneliti mengidentifikasi lima jenis tanaman lokal utama, yaitu kulit batang pohon kembar macan (Heritiera littoralis), akar pohon manggis hutan (Garcinia celebica), daun ketapang kering (Terminalia catappa), bunga putri malu merah (Mimosa pudica), dan rimpang lengkuas merah (Alpinia purpurata).
Setiap tanaman melalui proses ekstraksi yang cermat menggunakan berbagai pelarut organic untuk memastikan senyawa aktif tidak rusak. Kemudian, kombinasi dari kelima tanaman tersebut dikembangkan melalui proses formulasi farmasi modern dengan bantuan teknologi high-performance liquid chromatography (HPLC) untuk mengidentifikasi senyawa aktif secara presisi.
“Kami melakukan lebih dari 500 kali pengujian laboratorium untuk menemukan formula yang optimal,” jelas Dr. Siti Nurhaliza, M.Sc., peneliti utama dari Departemen Biokimia. “Setiap parameter diukur dengan cermat, dari kadar antioksidan, stabilitas produk, hingga keamanan toksikologi. Tidak ada yang dikompromikan dalam penelitian ini.”
Uji klinis dilakukan melibatkan 200 partisipan sukarelawan yang terbagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol. Mereka mengonsumsi formula herbal atau plasebo selama 12 minggu dengan monitoring kesehatan yang ketat melalui pemeriksaan darah berkala. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada kadar superoxide dismutase (SOD) dan katalase – dua enzim penting penjaga antioksidan tubuh – pada kelompok yang menerima formula herbal.
Temuan Spesifik dan Implikasinya
Data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa formula herbal ini tidak hanya efektif dalam meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh, tetapi juga memiliki profil keamanan yang sangat baik dengan efek samping minimal. Studi farmakokinetik menunjukkan bioavailabilitas yang tinggi, artinya tubuh dapat menyerap dan memanfaatkan senyawa aktif dari formula ini dengan sangat efisien.
Penelitian juga menemukan bahwa kombinasi kelima tanaman tersebut menciptakan efek sinergis yang lebih kuat dibandingkan jika tanaman digunakan secara individual. Fenomena ini dikenal dalam farmakologi sebagai “pharmaceutical synergy” dan menjadi justifikasi ilmiah mengapa kombinasi lebih baik daripada monoterapi.
“Penemuan ini memiliki implikasi klinis yang sangat signifikan,” ungkap Prof. Dr. Bambang Sutrisno, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh Kendari, dalam konferensi pers resmi yang diselenggarakan di Aula Raya Kampus, Kamis (03/04/2026). “Formula ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi suplemen farmasi yang dapat diakses oleh jutaan orang Indonesia yang rentan terhadap penyakit degeneratif.”
Tambah Prof. Bambang, “Kebanggaan kami adalah bahwa penelitian groundbreaking ini lahir dari kekuatan internal kampus kami sendiri, tanpa mengandalkan sepenuhnya pada laboratorium-laboratorium besar di pulau Jawa. Ini membuktikan bahwa Kendari dan Sulawesi Tenggara memiliki kapasitas intelektual yang sama kuatnya.”
Perjalanan Mahasiswa dalam Penelitian
Salah satu aspek yang patut disorot adalah keterlibatan aktif mahasiswa dalam setiap tahap penelitian. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai asisten pasif, tetapi sebagai peneliti sejati yang berkontribusi pada desain, eksekusi, dan analisis data penelitian.
Muhammad Fajar Rizki, mahasiswa program Magister Ilmu Biomedis angkatan 2024, adalah salah satu mahasiswa yang paling intensif terlibat. Dia bertanggung jawab atas seluruh tahap uji klinis dan analisis data statistik. “Pengalaman ini telah mengubah cara saya memandang ilmu pengetahuan,” ucapnya dengan antusiasme tinggi. “Saya belajar bahwa penelitian bukan sekadar tentang mencari jawaban, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang tepat dan bekerja dengan disiplin untuk menemukannya.”
Sementara itu, Dewi Kusuma, mahasiswa sarjana semester enam program Pendidikan Dokter, fokus pada survei etnobotani awal. “Turun langsung ke lapangan dan belajar dari masyarakat lokal tentang kearifan mereka dalam memanfaatkan tanaman adalah pengalaman yang tidak terlupakan,” kenang Dewi. “Kami tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga membangun hubungan bermakna dengan komunitas yang kami kunjungi.”
Dampak dan Kelanjutan Penelitian
Pencapaian tim penelitian FK Unismuh Kendari ini telah menarik perhatian berbagai pihak stakeholder, mulai dari institusi pendidikan tinggi lain, industri farmasi, hingga lembaga pemerintah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah memberikan penghargaan sebagai penelitian terbaik kategori biomedisin untuk tahun 2025, lengkap dengan dana insentif untuk pengembangan lebih lanjut.
Universitas Muhammadiyah Kendari juga telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Industri Farmasi Indonesia terkemuka untuk melakukan pengembangan formula ke tahap produksi komersial. Jika berhasil, produk ini diharapkan dapat diluncurkan ke pasar dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat luas.
Rencana keberlanjutan penelitian juga telah disiapkan dengan matang. Tim peneliti berencana melakukan uji klinis fase lanjutan yang lebih besar melibatkan 500 partisipan dengan durasi penelitian lebih panjang untuk mengkonfirmasi manfaat jangka panjang. Selain itu, penelitian aksesori juga akan dilakukan untuk menelusuri mekanisme biokimiawi yang lebih detail dari bagaimana formula ini bekerja dalam tubuh manusia.
Komitmen Terhadap Riset Berkualitas
Keberhasilan penelitian ini juga mencerminkan komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari terhadap peningkatan kualitas penelitian akademik. Dalam lima tahun terakhir, universitas telah menginvestasikan sumber daya yang signifikan untuk mengupgrade fasilitas laboratorium, merekrut dosen-dosen berpengalaman dengan publikasi internasional, dan memberikan scholarship penuh kepada mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Visi kami adalah menjadikan Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai pusat keunggulan penelitian di kawasan Sulawesi Tenggara, khususnya dalam bidang-bidang yang relevan dengan kebutuhan lokal namun berdampak global,” jelas Prof. Dr. Bambang Sutrisno dalam pertemuan dengan tim redaksi kami.
Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. H. Muhammad Irfan, S.H., M.Hum., juga memberikan dukungan penuh. “Penelitian seperti ini adalah bukti nyata dari aktualisasi misi kampus kami untuk berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kami akan terus memberikan suport penuh, baik dari aspek pendanaan maupun fasilitasi administratif,” tutur Rektor dalam acara apresiasi peneliti yang diselenggarakan pada hari yang sama.
Perspektif Masa Depan
Melihat ke depan, penelitian ini membuka berbagai peluang kolaborasi internasional. Beberapa universitas di Asia Tenggara dan Asia Selatan telah menunjukkan minat untuk melakukan penelitian replikasi dan ekspansi. Hal ini penting untuk memvalidasi temuan dari perspektif geografis dan populasi yang berbeda.
Dr. Achmad Ridhaudin menekankan pentingnya kolaborasi regional ini. “Penyakit-penyakit degeneratif tidak mengenal batas, begitu juga dengan kearifan lokal yang kami miliki. Jika formula ini dapat membantu jutaan orang di kawasan Asia Tenggara, itu akan menjadi legacy terbaik dari penelitian kami,” katanya penuh semangat.
Institusi penelitian seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah menunjukkan minat untuk memfasilitasi proses paten internasional dan membantu transfer teknologi ke industri lokal.
Penutup
Penelitian inovatif yang telah dicapai oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Kendari ini merupakan simbol bahwa innovation dan scientific excellence tidak terbatas pada pusat-pusat besar saja. Dengan kualitas sumber daya manusia yang solid, fasilitas yang memadai, dan komitmen yang kuat, universitas-universitas daerah juga mampu menghasilkan penelitian yang berdampak global.
Formula herbal antioksidan ini bukan hanya sebuah produk semata, tetapi representasi dari upaya serius untuk menggabungkan kearifan tradisional dengan sains modern dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ke depannya, diharapkan penelitian ini dapat menjadi katalysator bagi lebih banyak penelitian serupa di wilayah-wilayah lain Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Universitas Muhammadiyah Kendari telah membuktikan bahwa dari Sulawesi Tenggara, dari kota Kendari, penelitian berkualitas dunia dapat dilahirkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
—
Artikel ditulis berdasarkan konferensi pers resmi Universitas Muhammadiyah Kendari pada tanggal 03 April 2026. Verifikasi data dan statement langsung dilakukan dengan narasumber terpercaya di institusi terkait.